Sang Juara

Congrat!!! semoga menjadi sang juara yang bermanfaat dan bertanggung jawab

Bersama Kita Berkarya

Menjaga Tradisi Lama Yang Baik Dan Mengambil Perkembangan Baru Yang Lebih Baik

Pengurus KAFI

Kami Siap Mencetak Kaligrafer Muda Yang Profesional, Kreatif dan Inovatif

KAFI Jember

Menjadikan kaligrafi sebagai media da'wah serta mengembangkan menjadi ilmu dan keahlian yang bercitra rasa seni dalam tradisi islami.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ


Tampilkan postingan dengan label The Story Of Calligraphy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Story Of Calligraphy. Tampilkan semua postingan

7 Feb 2012

Selalu Ada Jalan (3)

Keenam, selesai dengan pencarian kertas, perjuanganku belum berhenti begitu saja. Aku harus membuat kertas kinstrik ini berubah warna menjadi coklat dengan cara dicelupkan ke dalam cairan teh kental. Belum dapat gambaran sama sekali bagaimana aku harus buat, tapi dengan petunjuk dari kawan dan tekad bulat untuk menumpas segala rintangan, akupun memulai ritual pembuatan kertas. Peralatan tidak memadai, aku tidak menemukan tempat yang besar untuk tempat pencelupan kertas. Tambah stress aja ni pikiran… L . nah, dibelakang rumah ada kolam renang plastic punya keponakan, kemarin habis dipakai jadi msih tergeletak dan belum disimpan. Aku punya ide memanfaatkan kolam renang plastic itu untuk jadi fasilitas ritual. pada bagian ini sebenarnya menarik untuk diceritakan, tapi karena prosesnya sulit, aku ikut kesulitan membahasakannya dalam sebuah cerita. 4-5 kertas dah tercelup, ada yang sobek, ada yang bagian tengah kertasnya melembung, ada yang warnanya g rata, ada yang kotor, dan hanya ada satu yang terlihat sempurna… wuih… “kamu satu-satunya harapanku”.
ketujuh… waktu itu hari minggu ketika aku selesai dengan ritual kertas. Sesuai target aku harus menyelesaikan karya hari itu juga agar karya bisa aku kirimkan hari senin besok. Tapi kondisi dah g memungkinkan. Membuat karya seharusnya membutuhkan stamina yang prima (halah…). lagipula tashih terakhir juga baru selesai hari minggu itu. Rukshah satu hari tidak apa2 lah, semoga hari selasa benar2 bisa dikirim.
Sampai pada penghujung perjuangan, saatnya menumpahkan segenap tenaga dan fikiran untuk memaksimalkan pekerjaan. Kupersiapkan peralatan perang dengan lengkap. Dan aku memilih pojok kamar kakakku sebagai medan pertempuran (hahaha….). eit… ada yang belum lengkap, aku butuh sesuatu yang sifatnya juga penting. Sesuatu seperti meja yang permukaannya terbuat dari kaca, dan dibawah kaca itu bisa diletakkan lampu untun penerangan. Mau beli meja baru, jelas tidak mungkin. Aku pergi ke toko depan rumah, iseng2 tanya kira2 ada g ya kaca bening yang nganggur dan bisa aku pinjam. Subhanallah, Ibu penjualnya bilang, di etalase toko ada kaca yang retak, sehingga diatasnya ditumpuki dengan kaca baru, beliau bilang kaca itu bisa saya pinjam. Wah…. Senangnya hatiku, masalah kaca selesai. Sekarang benda apa yang akan menjadi penyangga kaca ini agar berfungsi seperti meja, dan dibawahnya bisa diberi lampu?????????? Tuing… aku lihat keranjang baju dibawah tempat tidur kakakku, keranjang persegi panjang yang tingginya pas dibuat untuk nulis, insyaAllah menjawab pertanyaanku. Yup… Jadilah meja kaca. Pertanyaan terakhir, adakah lampu yang sangat terang untuk aku letakkan di bawah kaca???, Tuing… dibelakang rumah kakakku ada lampu duduk dengan 3 neon, setelah sy coba ternyata tidak rusak. Dan…. Meja pun sempurna…. (good job)
Bismillah, pembuatan karya sekitar jam 8 pagi baru bisa dimulai. Perasaan ini seperti sedang berada di tempat MTQ sungguhan aja, tanganpun jadi agak gemeteran karena gugup, hehe…, berjalan beberapa menit, proses pembuatan karya berjalan sesuai harapan, tapi tidak lama kemudian, pet… lampunya mati, hiks…hiks… ternyata daya charg-nya habis… hua…hua… aku dah g punya waktu banyak. Harapan satu2nya menggunakan lampu duduk kecil yang biasa aku pake latihan setiap malam, memang tidak terlalu terang, tapi lumayan daripada g sama sekali. Gitu deh…. Waktu nulis ada beberapa kecelakaan kecil, tapi life must go on… aku harus tetap melanjutkan karya ini apapun keadaannya, tawakkaltu ‘alallah… J. Alhamdulillah, sekitar jam 4 sore selesai sudah karya maghribiku,  selesai dalam waktu 8 jam berarti sama dengan durasi waktu pembuatan karya mushaf pada MTQ. Huff… rasanya remek juga ni badan, tapi sekali lagi Alhamdulillah… akhirnya selesai… bebanku telah berkurang… stressku hilang… senyumku mengembang….
Selasa 9 februari 2010. Deadline pengiriman karya. Setelah konsultasi dengan abah, kami bagi tugas. Sementara abah membeli triplek ukuran paling tipis, aku dirumah menyiapkan karya dan alamat sekretariat yang dituju. Sampai dirumah, ternyata abah tidak bawa triplek tapi bawa kertas karton ukuran yang paling tebel, bawa cuma satu itupun sebagiannya dimakan rayap L. Lalu giliranku untuk pergi cari kertas karton serupa tapi yang lebih baik. Setelah muter di Ngawi ternyata sudah tidak ada yang jual karton setebal yang abah beli tadi, akhirya aku beli yang ukuran yang  lebih tipis. Ya udahlah g pa2, daripada kertas manila, kan lebih tpis lagi tu (pikirku). Sesampai di rumah, abah sama kakak ipar sedang ngobrol didepan rumah, dan mas ipar bilang, kalo mau kirim ya dimasukkan ke pipa saja. Bisa ditebak, topic yang baru saja beliau2 bicarakan adalah tentang kesibukanku pagi itu. Agak kesel juga sih, kenapa tidak dari tadi ada masukan kaya gitu, jadi tidak perlu cari karton tebel dimakan rayap lagi. setelah mencoba ukuran yg pas, abah pun meluncur ke toko bangunan untuk beli pipa. Setelah itu tinggal dibungkus dan siap kirim. Ahhh…. Hampir selesai ni misi kompetisiku…
Proses terakhir. Sekitar jam 10 aku siap mengirimkan karya. Hanya satu yang belum siap. Yup, dananya belum siap. Sebelum berangkat aku laporan dulu kepada yang bersedia menjadi sponshor misi kompetisi ini, hehe… setelah terjadi sedikit negosiasi akhirnya dana cair sebesar 350.000,-. Aku sebenarnya ingin minta lebih karena takut barangkali setelah karyanya ditimbang biayanya menjadi membengkak karena ketambahan pipa. Tapi it’s oke, bismillah sy berangkat ke kantor pos. sampai di kantor pos, aku langsung menuju bagian pengiriman untuk menyetorkan paket barang yang aku bawa. Ternyata setelah ditimbang dan disesuaikan dengan harga pengirimannya, totalnya adalah 368.000,-. Itu artinya uangku kurang…. Hiks..hiks… Alhamdulillah mbaknya ngerti keadaanku. Aku bilang “mbak sy akan kembali lagi, barangnya biar disini ya mbak!” (pintaku agak malu karena yang antri buat kirim paket lumayan banyak :’>). Tak lama aku telah kembali lagi di kantor pos dan menyelesaikan urusan pengiriman karya. Sekali lagi aku tanya kapan paketanku bias dipastikan sampai, mbaknya sekali lagi juga meyakinkan aku bahwa karyanya akan sampai dalam waktu 3-4 hari. Ahhh….. leganya… aku pun pulang dengan lega… tapi sebenarnya tidak betul2 lega. Karena rasa khawatir karya tidak bisa sampai tepat waktu, membuatku sedikit gelisah. Kini aku hanya berharap ada sebuah surat yang dialamatkan ke rumah, yang memberitahukan bahwa karyaku telah sampai. Semoga….
Rabu, tanggal 24 februari 2010. Sore-sore aku ke café hotspot untuk ngenet. Suasananya sedang kurang membosankan, jadi aku putuskan baca semua inboxku satu persatu dari yang terbaru sampai terlama. Sampai pada email ke sekian ada kiriman dari ircica. Tidak ada pengantar atau sapaan, yang ada hanya attachment berupa pdf yang diberi judul “register”. Setelah berhasil didownload dan kubuka. Agak sedikit kaget, karena kira2 isinya mengabarkan bahwa entri (karya) yang aku kirim telah sampai di secretariat. Masih tidak yakin, terjemahkan dengan detail setiap kalimat yang tertulis dalam file pdf tersebut di google translator. Subhanallah… terobati sudah kegelisahanku beberapa hari ini. Alhamdulillah… kini targetku hanya agar karya yang telah aku kirim bisa dinilai (tidak diskualifikasi), itu saja sudah cukup. Tidak terlalu bermimpi mendapat nominasi bahkan juara, mengingat kurang maksimalnya karya yang aku kirim. Dan yang paling penting, aku bisa mendapatkan catalog dari hasil musabaqah ini. Alhamdulillah… terimakasih ya Allah… terimakasih abah & ibu, terimakasih kakak2 dan keponakanku. Terimakasih banyak ustadz belaid hamidi, dan mas nur serta kawan2 kaligrafiku… ^_~
(curhat cap lebayyyyyyyyy…. )

Selalu Ada jalan (2)

Banyak hal yang harus dihadapi, dan banyak hal itu memiliki jalannya masing-masing, meski proses menemukan jalan itu seringkali tidak mudah. Dan justru pada kesulitan itulah kita mampu merasakan kemudahan (kira2). Pada curhat kali ini (lha kok kayak khithobah gini), aku ingin menceritakan salah satu proses yang Alhamdulillah berhasil aku lewati. InsyaAllah…
Let’s continue it…
Pertama, aku coba curhat pada seseorang tentang niat untuk mengikuti kompetisi ini, ketika pembicaraan sampai pada masalah keuangan, beliau mengatakan bahwa aku tidak perlu memikirkan itu, aku hanya perlu menyiapkan karya dengan baik, karena beliau akan membantu apapun. Di akhir pembicaraan beliau menutup percakapan dengan ucapan “kalo ada apa2 jangan disimpan sendiri, dibicarakan saja karena pasti ada jalan keluarnya”. Alhamdulillah… min haitsu la yahtasib. Masalah pertama selesai karena sponshor sudah di tangan .
Kedua, Selama ini ketika mempersiapkan MTQ, aku tidak lepas dari bantuan teman2ku dalam mempersiapkannya, seperti tarkib, desain hiasan dan lain-lain. lalu kali ini, masalah tarkib nash maghribi, dalam waktu singkat sepertinya mustahil aku bisa mengatasinya dengan baik, sendirian lagi, benar2 tidak mempunyai gambaran sedikitpun L. Maha besar Allah, fikiran mulai cerah ketika kawan kaligrafer tadi memberikan contoh tarkib. Alhamdulillah sangat membantu untuk latihan. Masalah kedua selesai.
Ketiga, khawatir benar2 tidak punya waktu cukup untuk mengirim karya, aku putuskan pergi ke kantor pos untuk mencari kepastian. Menanyakan biaya pengiriman ke Turki dan deadline sampainya kiriman. Alhamdulillah, biaya pengiriman insyaa Allah masih dalam jangkauan dan customer servicenya meyakinkan aku bahwa kiriman akan sampai dalam waktu 3 atau 4 hari. Meski penjaganya benar2 kelihatan yakin, tapi tetap saja aku takut kemoloran2 akan terjadi, sebulan dua bulan, ahh,,, bisa sia-sia dong. Tapi yang dibutuhkan sekarang hanya usaha, selesai. Aku tergetkan tanggal 8 februari sudah bisa kirim karya, karena setelah itu harus bantu2 persiapan acara di rumah. Masalah ketiga selesai.
Keempat, aku hanya punya waktu kurang dua minggu sebelum sampai tanggal 8. Latihan intensif aku lakukan dan pembenaran2 tulisan terus berjalan. Ustadz belaid yang sangat aku harapkan untuk bisa memberi komentar tentang latihanku, harus bijak mengambil sikap untuk tidak terlalu interfensi terhadap persiapan nash musabaqah murid2 beliau. Karena posisi beliau tidak memungkinkan untuk itu. beruntung aku masih memiliki teman2 satu perjuangan, yang selalu bersedia membantu memberi masukan2 positif. Meski aku benar2 sangat stress, karena tulisan tak kunjung bagus, padahal pengiriman karya sudah tinggal hitungan jari L.
Kelima, bersamaan dengan latihan intensif, aku harus memikirkan bagaimana aku bisa mendapatkan kertas yang aku gunakan sebagai media pembuatan karya. Secara di Ngawi aku tak yakin bisa mudah mendapatkannya seperti ketika di Malang. Sudah keliling ke beberapa tempat ternyata g nemu. Sempat terfikir untuk kembali ke malang, cari kertas sekalian mengerjakan karya di sana. Tapi dalam kondisi rumah yang sedang repot, Abah pun tak mengijinkan rencanaku itu, dan diberikan alternatif agar aku ikut ke Solo sekalian beli kebutuhan yang ingin Abah cari. Nah, rencananya kami pergi ke Solo hari selasa tanggal 2 januari. Tapi karena Abah sakit, kepergian kami ditunda esok harinya, padahal itu juga blm tentu abah sudah sembuh. Kalopun belum sembuh abah akan tetap menemani pergi ke solo karena tahu kebutuhanku sangat mendesak, (mengharukan :’( ). Rabu pagi hari, ketika mengantarkan keponakan sekolah, abah pesan agar aku mampir dulu di percetakan langganan, barangkali kertasnya ada. Meski aku tidak yakin, aku mengiyakan pesan abah. Subhanallah, sampai ditempat percetakan dan mengutarakan kertas yang saya cari, dengan ragu penjualnya menunjukkan kertas kinstrik agak usang. Aku kegirangan, tepat sekali dengan yang aku inginkan, tebalnya pun kira2 ukuran berat minimal yang aku cari yaitu 150 gr. Ketika aku Tanya apa ada ukuran yang lain, penjualnya bilang itu bentuk kertas kinstrik satu2nya yang dia punya. Alhamdulillah, tak perlu lagi aku pergi ke solo…

Selalu Ada Jalan (1)

Idealnya kita akan eksis dengan yang kita tekuni walau tanpa motivasi eksternal apapun. Tapi aku sangat mengakui, jika eksistensiku dalam kaligrafi beberapa tahun ini tak lain berangkat dari motivasi musabaqah. Keikutsertaanku di MTQ Provinsi Jatim ke 23 di jember bulan juli tahun 2009 mewakili kabupaten Malang aku anggap sebagai event terakhir  meski sebenarnya aku tidak berharap demikian. Hanya saja dua tahun mendatang mungkin aku sudah tidak di Malang lagi, dan posisi sebagai kafilah kabupaten malang di golongan hiasan mushaf harus aku berikan kepada orang lain. Namun perkenalanku dengan kawan kaligrafer Indonesia yang sedang studi di timur tengah pada pertengahan tahun 2009 kemarin, sedikit mampu merubah pandanganku itu.
Kompetisi kaligrafi International di Istanbul Turki yang diadakan oleh IRCICA selama tiga tahun sekali, pada kesempatan kali ini dilaksanakan pada tahun 2010. Pembina kaligrafiku yang 3 tahun lalu juga mempersiapkan karya untuk musabaqah serupa, urung mengirimkan karya karena berbagai kendala. Kini beliau ingin mencoba untuk mengikuti kembali. Kami murid-murid beliau juga disarankan untuk mengikut kompetisi tersebut, tapi karena sadar diri bahwa kemampuan kami masih sangat jauh untuk berpartisipasi dalam event massive seperti ini, kami pun urung mengiyakan saran beliau, terutama aku.
Setelah selesai mengikuti MTQ Jatim di Jember, kawan kaligrafer tadi menyarankan saya untuk mengikut kompetisi internasional tersebut. Ketika itu saya ditanya aku bisa khat apa, aku jawab bahwa aku tidak bisa apa2, tapi yang pernah aku pelajari hanya khat naskhi, itupun aku tak kunjung menguasai. Kemudian dia menawarkan agar aku ikut khat maghribi saja. Beliau bilang bahwa khat maghribi tergolong mudah, dan bisa dipelajari mulai dari sekarang (waktu itu). setelah mencoba berkelit, akhirnya aku luluh juga untuk setuju mengikuti kompetisi dengan dasar bahwa aku berniat belajar dan semoga bernilai ibadah, adapun nanti jadi mengikuti kompetisi atau tidak itu nomor sekian. Alhamdulillah… setelah mendapat kurrosah maghribi dan beberapa petunjuk penulisan maghribi, aku mulai berlatih, dan pada tanggal 10 September 2009 (bulan ramadhan) aku mengirim dars untuk pertama kali. Awalnya aku mengira dars akan ditashih oleh kawan kaligraferku itu, tapi ternyata beliau menunjukkan kepada ustadz yang mengajar kaligrafi di Markaz khat yang beliau ikuti. Malu sih, tapi excited juga karena gak nyangka bisa mendapatkan kesempatan ditahshih tulisan oleh master kaligrafi, yaitu ustadz Belaid Hamidi (yah). Sejak dars pertama itu, akhirnya proses belajar maghribi secara online berjalan dengan lancar. Hampir setiap hari aku rajin menulis, di rumah (kos) atau di kantor UKM SR, selesai shalat shubuh, ketika menanti buka puasa, bahkan ketika rapatpun aku menulis maghribi , bahkan aku lupa bahwa aku belajar maghribi ini punya motivasi kompetisi internasional.
Sekitar akhir desember 2009 aku berhasil menyelesaikan kurrosah maghribi. Itu artinya, aku sudah harus menyiapakan nash musabaqah untuk dikirimkan pada bulan februari 2010. Karena keadaan akademik yang waktu itu (akhir desember) sedang UAS (Ujian Akhir Semester) dan setelah itu ada jadwal seminar proposal pada pertengahan januari, menjadikan konsentrasiku terpecah. Sebenarnya tidak betul2 terpecah, karena membagi waktu antara menulis dan mengerjakan tugas2 diluar ternyata bisa aku taklukkan. Nyaris tidak menganggu satu sama lain. (well done)
Pada bulan januari aku memang jarang terlihat menulis maghribi, bukan karena tugas2 akademik itu, akan tetapi karena dars terakhir yang aku kirimkan ke ustadz selama lebih dari dua minggu tidak dikirim balik ke email. Latihan pun jadi tidak semangat, padahal aku bisa memanfaatkan waktu itu dengan latihan menulis nash maghribi agar lebih mengenal kalimat2nya. Akhirnya aku deadlinekan bahwa persiapan nash maghribi akan aku intensifkan kembali pada waktu liburan (sekitar akhir januari).
Tanggal 19 januari 2010 aku sudah dikampung halaman. Peralatan yang akan aku gunakan untuk latihan dan mengerjakan karya sudah aku ada di tas laptop yang usang (halah,,,). Hari berganti hari tak kunjung aku latihan menulis lagi. Terbebani juga difikiran bahwa kemungkinan bisa mengirimkan karya ke Turki sepertinya hanya sebatas angan2. Secara di rumah waktu itu sedang persiapan hajatan keluarga, aku tak mungkin ngrecoki abah ‘minta uang’ untuk mengirimkan karya ke luar negeri. Selain itu waktu juga yang semakin mepet. Deadline pengumpulan karya hanya sampai akhir februari, itu artinya aku hanya punya waktu sekitar dua minggu agar karya bisa sampai tepat waktu, padahal di rumah juga bakal repot persiapan hajatan. Masalah financial belum terselaikan, masalah persiapan yang masih nol ikut terbayang, dan juga beberapa keperluan pembuatan karya seperti kertas blm aku sentuh sama sekali…. Ya Allah…. Aku stressssssssssssssssssss…..
Bismillah, I Can Do it,

24 Sep 2011

The Story Of Calligraphy


KOPI SPESIAL

Nasihin, adalah seorang sahabat yang pendiam sekaligus ulet dan bersahaja. Lulusan PP. Riyadlus Sholihin Probolinggo ini demen sekali dengan hal-hal yang berbau khat sebut saja “Kaligrafi”. Terbukti, Karena Nasih selalu One Step aHead dari semua tentang segala informasi mengenai dunia kaligrafi. Baginya, memegang andam seraya memegang rokok tanpa beban penuh perasaan, ketenangan dan kedamaian.
Suatu sore menjelang senja, terdengar nada pesan dari Hp-ku. “Chim, ayo latian bareng neng kostanmu” ternyata Nasih yang sms.
Kubalas “dikampus hujan deres nas?”, “iyo.. g po2 cim, sekalian nginep dikostmu” Nasih langsung membalas. Bagiku, Nasihin adalah seorang sahabat bagaikan Sun Gokong “Walau halangan, rintangan, membentang tak jadi masalah dan tak menjadi beban pikiran”. Bayangkan saja, waktu perjalanan yang ditempuh dari rumah ke kostanku ± 2 jam. Tak jarang ia menempuh jarak itu. Hanya karena satu alasan, untuk latihan kaligrafi bersama.
Tepat pukul tujuh malam Nasih tiba di kostanku. “hahaha... kehujanan yo?” sambil tertawa terbahak-bahak kutanya Nasih. “iyo chim” jawab Nasih yang tampak kedinginan. Semangatnya untuk latihan kaligrafi seakan mengalahkan kelelahan yang tampak pada raut wajahnya.
Akhirnya setelah sholat Isya’ kita mencari makan. Seperti biasanya di warung lesehan favoritku “Warung Bu Rahmat” tepat di depan Bundaran DPRD Jember. Selain bergizi tinggi dan murah mempesona, juga bisa untuk cuci mata.
“Chim nanti nglembur yo?” Ajak Nasihin yang lagi mengunyah makanannya . “Bereees!! Siap bozz!”. Pulang dari warung Nasih membeli 1 bungkus kopi panas. Tanpa rokok dan kopi dia gak bakalan bisa konsen latihan.
“Nas.. ternyata jadi khattat itu ada syaratnya!” ucapku saat berjalan menuju kostan.”apa chim, telaten? Ya pastilah!!” sahut Nasihin. Seorang khattat tiu harus nulis ‘Robbi Yassir Walaa Tuássir Robbi Tammim Bilkhoir’ dulu Nas.., Sebelum kita pertama kali belajar khat, semacam mantra lah! Jampi-jampine kaligrafer ben diberi kemudahan”. Nasihpun langsung mengangguk-anggukan kepala sambil menghayati makna doá tersebut.
Sambil diitemani lagu Jambrut “Suster Cantik”latihanpun dimulai. “Hmmmm Wawu mu kok gitu chim, kurang lonjong kayaknya!? ”Nasih yang sewaktu-waktu mengoreksi tulisanku sambil meminum setengguk kopi. “ehh... huruf ba’ mu ga’ kelebaren ta???” gantian aku yang mengoreksi. Beginilah kita yang saling mengoreksi satu sama lain, meskipun kita sadar kalau tulisan kita jauh di bawah standar.
Jam Beakerku menunjukkan pukul 02.15. Nasih tiba-tiba naik kasurku “Chim tumben aku ngantuk, aku tidur dulu yo! !” iyo wes turuo...”. Mungkin temanku yang jago buat hiasan mushaf ini benar-benar kelelahan. Akhirnya Nasih pun tidur di antara kertas-kertas yang berserakan d atas kasurku.
Di saat Nasih tidur aku masih latihan. Ternyata tinta yang kupakai hampir kering, kemudian kutuangkan tinta ke tempat tintaku dan ternyata tinta yang kutuangkan kebanyakan. Tintanya benar-benar penuh hampir tumpah. Karena malas keluar, akupun langsung mencari tempat untuk membuang tintaku yang kebanyakan tersebut. Akan tetapi tidak kutemukan juga tempat untuk membuang tintaku.
Dibawah mejaku kulihat sebuah gelas sisa kopi Nasihin yang tinggal sedikit. “disini aja wes g da tempat lagi!!”. Terpaksa, karena tidak menemukan tempat lagi akhirnya tintaku kubuang ke gelas itu, kuyakin Nasih tidak akan meminumnya lagi apalagi dia sudah tidur pulas.
Suara ayam Pak Kost sudah saling bersahutan, kulihat jam beakerku sudah menunjukkan pukul 03.18. Tidak terasa waktu sudah pagi, kepalaku akhirnya tergeletak di atas meja latihanku. Mataku tak kuat lagi untuk menginjak kealam mimpi.
“Chim tangi chim tangi.. shubuhan udah jam lima!!” terdengar suara Nasih sayup-sayup di telingaku. Kepalaku masih tergeletak di atas meja latihanku, mataku terasa berat, kulihat Nasih berdzikir d atas sajadahku. Aku yang setengah sadar memandang Nasih yang sewaktu waktu meminum kopinya disela-sela dzikirnya. “ndang wudhu chim.. g subuhan ta!!” nasih menyuruh lagi. Akupun langsung beranjak untuk mengambil wudhu.
Usai sholat shubuh nasih mengajak untuk menulis lagi. “ayo chim sekarang pemantapan tulisane dewe Robbi Yassir Walaa Tu’assir...”. Sebelum menulis, mataku tertuju pada gelas kopi Nasih yang berada disampingku. Kulihat gelasnya bersih tanpa sisa. Matakupun semakin lebar memandang gelas kopi kesayanganku itu. Spontan langsung kutanya nasih. “eh.. Gelasnya kok kosong nas??” “ emang knapa chim??” jawab nasih. “Tadi malam kan masih ada nas..??? tanyaku penasaran. “iya chim, tinggal 3 tengguk, tadi kuminum,, malahan rasa kopinya tadi tambah enak!” memang kenapa chim?”. “egg ggg g g g g pap pap pa pa.. nas!!!” jawabku terbatah-batah sambil melotot kegelas kopi nasih yang tanpa sisa itu. *Ocim’s*